Jumat, 01 Februari 2013

DI TEPI TAKDIR

Ada kejenuhan dari layar-layar yang berkibar di garis rautmu
Di laut taksa: kesendirianku berupa kenangan dipagari riak-riak gelombang
Apa yang terjanji? Selain matahari yang bertasbih dikeremajaan waktu

Di seberang mata, masih bisa kudengar desir menjauh dikeremangan ruh
Payudaramu tak berkibar menitipkan keberadaanku yang koma
Kesia-siaan ini kian bersenggama tanpa peraduan
: adakah kau tau hikayat adam-eva, melenggam perumpamaan kita berdua?

Meski aku didera angin, mimpi akanmu terlalu mahal dirabai
Menisbatkanmu bak lara yang merangsumkan benih onani
Dari bebayang sangsai yang muncrat di urat-urat kayu
Sampai ketika sajakku yang mulai tumbuh dari rambutmu luruh
- ke tubuh, ke lenguh

Ah, mata mungilmu masih hingar utuh berlari dari nyeri ke nyeri
Mengundang para fakir mabuk kepayang dari perburuanya
Di bilik, di serambi kejenuhan bersandar pada air mataku

Aamiinilah rindumu, aamiinilah mimpiku, aamiinilah luka takdir kita pada satu kepercayaan
:"kita pasti bisa bersabar pada ingkar"




Aby Santika

Bandung,
26 Januari 2013
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar