Kamis, 26 September 2013

ODE BUAT NOOH



Kembali aku maknai diriku sebagai manusia
ketika kau ucapkan salam pertama, salam pada semesta
di taman perdu doaku tak lekang; berhikmat, mencatat pesan
yang tidak bisa dibahasakan dengan kasat mata
sebagaimana titik-titik mimpi diantara ribuan igau
aku merindukanmu,
rindu yang tumbuh seperti ibumu; ia menganyam manik-manik indah
di kedua lenganmu

Aku kembali mengaji dan mengkaji
kutemukan namamu, juga namaku; dalam ayat tak berwujud
dalam nama sebagaimana Adam adalah putera pertama
dari tangan-tangan sorga

Namun kita tak punya pilihan, nak!
meski tulang iga yang lepas tak bisa retas oleh api
kau masih terlalu muda untuk jadi seorang pemburu
atau aku harus sabar melihatmu melangkah menuju fajar
yang merekah
mata mungilmu menawarkan seribu sorga yang murni
dan bening
kecuali jika kesangsianku berkata bahwa tidak ada api
di antara kautsarnya yang bermuara

Adakah kau kelak akan menolak kehendakku?
sebab aku ayahmu, dan biarlah langit mengikrarkannya
di atas rasa sakit, di dalam rindu yang mengheningkan air mata
ihwal yang terbuang akan menemu tempat yang suci
kita tahu,
setiap bahasa yang dirahasiakan selalu ada yang lebih abadi
dari pembangkangan yang di cipta dari penghianatan

Berlarilah nak! bagai rusa di padang buruan
lalu kita akan bernyanyi bersama kelak,
pejamkan matamu
karena kerinduan kita tidak akan dilupakan waktu




 



Aby Santika

Bandung,
23 September 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar