Minggu, 26 Mei 2013

SURAT PENUTUP

 
: Adinda, sebuah waktu

Parak ajal, kutemukan nyeri bersulih kata-kata
seperih sajakku diingatan, dikenangankan seperti Shinta juga Dedes

ia terlahir dari tangan-tangan trah kesucian, lalu waktu mencatatnya lewat taklimat yang terpinggirkan
meski dirahimmu kelak waktu lain tercipta
bahasa apa yang harus kuterjemahkan dari rahasiamu!
- dan segala tulisan mengekal menjelma batu

Mungkin rindu dengan mata pedangnya telah mencipta merih
mengundur arah jarum jam selama berabad-abad menitiskan paceklik
atau metamorfosa bunga dan mengundang burung-burung untuk mematuknya 
namun yang kuingat hanya lesungmu yang tersamar di renggang jemariku

Di penghujung, kita tak sempat menghitung seberapa cemas itu akan datang
semuanya membelah jiwaku melebihi batas-batas kata
; Jika pelarunganku selamat, 
-- kau akan tahu betapa telah kulaknati kelelakianku dengan kesedihan dan umpatan-umpatan

Aku tak akan berhenti di bait ini, meski kepastian bukanlah Isa yang diteteskan keperawanan

Adinda: kita bermimpi dilahirkan dan dibuang
mengaji rindu bersama, berdzikir pilu bersama, terlentang mengilhami sunyi
dan duka terpatri adalah bahasa sederhana yang pernah kita tulis di atas lontar

Karena harapan hanya lanun yang tertinggal dikerongkongan
akupun berdoa dengan tengadah dan menutup mata
lalu semuanya menjadi sebuah titik tersendiri yang kekal

Ah, semoga tulisan ini tidak akan pernah terselesaikan
- kau tidurlah dengan lelap!



Aby Santika

Bandung
03 Maret 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar