Selasa, 06 Agustus 2013

TITIK 24


Jika ada sembahyang yang mencahar di titik ini
hanya sundih saat kau undur dari pelupukku
sedang kesaksianku serupa jarum jam yang palung
dihantarkan timang, pada tembang di relung paling silam
hingga gelap dipahami bak resah yang paling ganas

Di titik ini, kuhitung segala dusta yang mengekal
seperti sapuan mata, kita akan melihatnya terapung
di ambang keesaan sepi

Mimikmu masih sealir air yang tak lagi memberi batas
untuk menunggu cipratan yang memberi dingin
ah, akupun diam-diam mendinginkan waktu
doa kurapatkan bagai kedap ketulusan hingga ada yang meledak;
di antara belikat malam

Mungkin di keesokan hari
garis-garis rahasia akan terpahami pada titik ini
hingga jibril menangis dalam setiap sujudku
saat mabuk suntuk karena persetubuhan dengan tuhan dijadikan umpan
- kita telah diasingkan, sebab kita bukan tuan atas hidup ini

Maka aku akan berjalan hingga putaran ke dua puluh empat
dan jangan pernah kau bertanya;
" sebab kita tidak akan pernah berhenti pada titik yang sama "
 


Aby Santika

Blitar,
03 Agustus 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar