Minggu, 22 September 2013

DI DALAM PIGORA



Mendekati dinding-dinding
aku kikis kembali hati kita, yang luka dipenuhi
kenangan-kenangan kekal
-- kehilanganmu,
di dalam kejenuhan sayap-sayapnya adalah dupa
yang mengkhayalkan malam

Sambil menuliskan sajak-sajak
aku berjejak dalam alur tak pasti
sebuah potret masih berdep-depa tercampak
di antara ukiran, rautmu membentuk
keperawanan yang tua renta

Jika engkau bertanya:
"Dalam pergantian malam, Usaikah kau menganyam
tiap bilah rambutku yang kusutmasai?"
gurauanku di secangkir kopi menegurmu:
"engkau bak eva di dalam kaca, seperti resah
sukar dipahami dalam wujudnya!"
yang diandaikan abadi, perlahan hilang
dipenuhi dosa

Kemudian kusisipkan di pojok dinding
rautmu dipantulkan kaca jendela dan tembok porselin
bak penari dikuyupi birahi
Bibirmu berkibar rekah meski di pengap udara
di dalam pigora, luka adalah kesendirianku
sebab tiada pintu yang membuka
tempat menguburkan hati kita

 

Aby Santika

Bandung,
14 September 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar