Senin, 27 Februari 2012

DI ANTARA HIDUP SENDIRI

Hidup telah meletakkan cintanya di jalan sendiri
sebelum kau jemput ke derap matamu berhias rindu yang hancur
lambat-laun sirna gubahan angin yang jauh berdesir
jatuh cintamu tinggal nampak hidup dengan ketetapan hati

Pulanglah, jangan sepenuhnya menunggu sunyi

aku akan bacakan sajak-sajak selintas hikmat
menjemput suara syairmu yang lemah lembut

sebelum lenyap badan terbang berkibar

Di iringi senja yang tipis menggamit mata air
segala genap usia menggeleng mencari bahagia
mungkinkah sahaja hidup sudah dewasa,
sementara angin sudah mulai renta dan tak setia?

Tapi rupanya hidup dijanjikan alangkah singkat
dan melupakan kau yang berlama-lama tiada putusan
sesekali engkau kagumi lengkungan langit
seperti untaian kalung yang terberai di antara hidup

Pulanglah, kulepas waktu yang merayap restu Ilahi
kini hidupku diam diam menunggu di musim gugur
antara nyawa lapuk berumur menyusuri mendung
menghirup udara putih yang menepis tersedu-sedu

Hidup yang tak hendak lagi sujud merenung
di denyut nadi impian berjatuh gemetar lemah
setelah kau puas berlayar tak jua sampai pada jarak
menghadapi kesadaran yang terendus napsu sendiri

Ketika kita memilih kesempatan selain yang kau cari
akankah ketidak mengertian datang merasuk kembali?
karna hidup umpama labirin-labirin kosong
sejenak kau akan berhenti dalam tubuh yang terkunci.

 


Aby Santika

Bandung,
27 Februari 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar