Angin lembut demikian asyik memandang mendung
meneladannya kehidupan bersembunyi di ujung dahaga
saling cerita meneteskan rindu jika musimmu nanti tiba
kota yang menumpah bersama airmata gelisah
Sudah cukup lama aku memilih hening yang jatuh
padahal orang-orang di sana saling tengadah ke udara
aku menyimpan cinta yang di tanam benih dari jiwa
orang-orang meminta agar hujan tak menghambur pudar
Berjalan sendiri baringkan badan di tembok rumah gedongan
kota-kota gemuruh di buat resah semakin nyata
hasrat menemui wajah sahaja berjajar rapat seketika
seperti ruang kosong tulisan rindu kudus
Ah, orkes jalanan membuai nafas terlunta lunglai
bersama berlagu kemudian parau suara mencatat sajak luka-luka
melihat langit legam mengusap mata silih berganti terseret hanyut
harapan-harapan enggan menggapai angin sejuk
Di Jakarta badai yang tersisa selalu penuh dera
padahal selangkah kaki jauh menghadap kekasih
pedih jalanan di kotamu gelisah menjanjikan hujan
segala-galanya lenyap sebelum hatiku kebasahan
Haripun berangkat kelabu penuh lekat
aku menempuh kehormatan yang diulurkan rindu ranum
dalam rahasia mendung sekali waktu mengungkap
rindu menggoresnya di debu kota Jakarta
Sebelum hujan orang-orang pamit pulang berpelukan
aku tak menutup impian bertemu di perempatan jalan
berpeluh turut mengikut angin berhembus lalai
ketika menyambut beranjak dari kotanya.
Aby Santika
Jakarta,
05 Februari 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar