Di kala senja kutanya sendiri tentang doa yang bernaung
mengirimkan rangkaian rindu yang tampak di denyut jantung
yang kau pegang erat sambil berkata halus menampung gelisah
hanyalah bunga-bunga gemetar menebar wangi ke seribu pinta
Di hadapanku ada serumpun rindu pada doa ayah ibu
dan diantaranya dari setiap pertanyaan selalu kosong meninggalkan sayap mengepak langit
mencari jawaban dengan bayang-bayang lurus itu
semua alam hendak mencibir lalu doa kian di sambut anyir
Mungkinkah sebuah tanya adalah doa?
sampaikan teduh mengutuki seluruh nafsu kuyup yang beku
meneriakkan sejuta harapan-harapan di permainan waktu
lalu senjapun berubah menjadi merah tembaga
Jika ketidak-pastian bercerita tentang burung-burung lapar
tidak akankah kau mengerti adat yang melanda sunyi?
sementara nasib bergerak menemukan cintanya tiada terhenti
hujan menggenang air mata menanti tanya yang tak hendak usai
Mungkinkah sebuah tanya adalah doa?
ialah segala kuncup bunga sebelum senja bermekaran
lalu kelopaknya berguguran oleh tangisan doa di bibir luka
meski terdengar sumbang lantang suara penuh sembilu
O, bapak betapa sedari kecil di sambut doa-doa
dan kedekatmu aku bermohon bakti kemudian hari
kuharap engkau menumbuhkan nyawa yang kuat
agar kelak di sekelilingku orang-orang menjadi lembut
O, ibu bagaimana kelak aku harus membalasmu
sementara tanyaku masih serupa doa-doa di relung hati
mengingat kau menegak kasih di ubun-ubun hingga aliran darah
jemari tanganmu menengadah sepasang doa tiada henti
Maka, jika sebuah tanya adalah doa
Tuhan tiada mencipta dengan sia-sia di dunia
sebelum tertutup pintu langit tinggal jasad
jemputlah tulus merdu menembangkan doa puja puji semesta raya.
Aby Santika
Bandung,
18 Februari 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar