Sabtu, 25 Februari 2012

MENGENANG SECANGKIR KOPI

Duh, betapa pagi bagai sepuluh ribu pejalan kaki penuh luka
derapnya bersorak-sorai bagai bunga api melata di tengah dingin
embun dan ternak mengungsi di halaman penuh teror
di rumah yang putih tibalah aku mengenang secangkir kopi

Dalam satu mulut yang syarat suara-suara yang juga tuba

burung membisikkan satu kisah masa kecil bermain-main
tentang kenikmatan tujuan hidup
dalam hijau musim
sedang aku tak bisa lagi menembangkan syair yang lenyap di cangkir kopi

Ah, lidah memutih menghambur jalanan pagi
hati membelit sepi menahan unggas lepas di udara
sedang malam kehabisan tubuh-tubuh yang berpelukan setelah gelap
kemana gemburnya lincah kaki berpesta kopi?

Kenapa tuan berduka? setiap pagi beramai-ramai hilang
percakapan di penuhi beban menahan dingin bertubi-tubi
pelan-pelan matahari meninggi di pangkuan riuh suara khalayak
duka airmata menenggelamkan rindu secangkir kopi

Mungkin setelah kutuliskan puisi di atap rumah
mengapa air tumpah menyongsong tanah penuh wajah gelisah
dari puncak tinggalah sepintas taburan bunga
yang berserak kini meja dan gelas-gelas sisa

Di saat-saat demikian cepat pusar tetesan menyalang
duhai, pagi masih begitu sumbang kau tuang
tutup bibir gelas merapat luka bersahutan kepalang
lalu suara cempreng bersorak memburu secangkir kopi yang hilang

Duh, betapa pagi sibuk menyelubung kampung bertanah usang
umpama para pejalan mengungkung dekapan gunung
embun dan burung selangkah kaki menghadapi matahari penuh terang
tibalah aku menahan murung yang sedang mengenang secangkir kopi


 


Aby Santika

Bandung,
25 Februari 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar