Sering daku melihat di bijak mamang
menghimpit kaki-kaki berpijak bolong
bersuka cita dera di sudut kota
wanita bolong menawar rayu madu nan durja
Bolong berjalan kupu-kupu melayang
mimpi mengenang cahaya sebentar saja
menangis ringkih iba hatinya di buang
menyuapi perut nurani bergoncang ria
Bermukim tempat rebah di jalan berlubang bolong
baringkan harapan bila fajar teduh benderang
yang memandang hidup berkatan juang jadi bahagia
beras sebutir betapa nyawa menolong badan
Daku melihat bolong setengah telanjang
malam-malam disambut tuan tiadalah tentu
terkadang nasib bertiup kencang di saku yang bolong
di dalam batin gelisah apa hendak dikata
Jika kelakuan sebagai nafsu di dunia
siapa kenal sangka diperkosa zaman
engkau bertahan daripada membangkai usang
dalam tumbuh di antara hati tak betah lagi
Bolong berjalan pewangi seribu malam
jatuh tergenang dosa menyambut air mata
tertegun beku berkaca diri mukamu
mengagumi shubuh yang suci terdengar adzan
Basuh muka dan rumput-rumputmu menggunung subur
sehari saja berilah perut madu yang bening
lupakan bolong-bolong yang melompong
hidup terjalin menumpah cinta Ilahi.
Aby Santika
Bandung,
03 Februari 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar