Orang-orang senyum dengan bibir terbaring miring
kemudian botol-botol anggur mulai mencari ingatan yang mesra
kedua lehernya di peluk setengah berjalan miring
bergerak meniup angin yang berambut agak kuning keemasan
Semabuk-mabuknya semalam berdansa, hai nona !
bernyanyi lagu-lagu yang di putar terlalu bising
seperti hentakkan kaki berdegup sangat berat siapa berpesta dan bergirang riang tiada aku bergerai henti
Tapi beban engkau barangkali lupa jalan hidup
mereka berhias diri menyambangi keranjang nona membawa cocktail
kelakuan di buat turun supaya tercampa dunia sengsara
karena di dalam hidup yang lurus, jalan miring di gali pasrah
Kukira bau mulut bukanlah membilang sloki yang masuk
ini memang hidup yang menyimpan persaingan dan kedengkian
saat keduniawian luput di kecup lembut
dalam pelukan cinta berahi menjilat doa yang terpinggir
Orang-orang seperti sebutir telur lonjong
berputar menghabiskan pesta dengan topi miring
sorak-sorai menanti sesuatu tak hendak pulang
kulit kuning, menyisir resah dan juga bergigi kuning
Mampuslah benci bersuka tiadalah lama-lama
orang-orang pernah melupakan sembahyang ketika pesta
hal moralitas betapa hilang di ujung binatang terpelihara
menarik-narik mencari semua hidup dan mati dituliskan
Apalah jauh waktu perlahan gemerlap nestapa
anggur-anggur kosong terdampar menaruh ahlak cedera
tentulah pesta melambai miring hanyalah dunia
karna hidup mencibir melahirkan kenyataan.
Aby Santika
Bandung,
26 Februari 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar