Alangkah menyala enam purnama semesta raya
ketika kita menguasai sunyi tanpa makna
jalannya berliku-liku kosong terhadap dunia
sebelum menemu gelisah rindu di serang rasa
Di lambung malu merupakan sedari kandung
menemui hatimu tiada bukti cukup sekedar berjumpa
hujan di bendung mencari rahim air mata
dengan hidup bukan penyiksa lahir sengsara
Duhai, gerak hayat hidup dan mati
bahwasan bercinta memandang laku bahagia
sampai niat menuju fajar kuingat padamu
kusangka berbunga mawar senja kan tidur
Duhai, kutangisi hidup aneka cerca
dimuka rupa gapura menjadi berbatas
lalui hidup mendulang khabar menyebrang ke hati
sama berdua bahagia di airmata mengalir
Mahkota kepala kemerlap wahai cempaka
konon melambai sangka layangkan percaya
meninggi awan apalah daya gelap gulita
tiada sabar, sayang setia dihembus cedera
Kalaulah damai hanya di buang mata
senantiasa sebagai bayang di cari gerang tempat berpaut
dan sedanan cerita kita benam di enam purnama
setiap saat kenang menjemput di jari lemah dan lembut
Suara haruku bermohon penuh tirakat
sering terkurang bisikkan sejarah sedarah baya
tiada percaya kemerlap purnama hilang
menurut sukma rindu sulit membilang
Aby Santika
Bandung,
31 Januari 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar