Waktu ibu melahirkan daku dalam alam tiada terbatas
jeritan parau memangku daku di lantai dunia
berkumpul asa dan doa-doa yang layak banyak ragam
di desa gunung melindung inang usia bertambah di hitung ulang
Datang tampak di dunia yang kian tumbuh dewasa
jalan terus menanjak sendiri menuntun perut meriak butiran nasi
hijrah ladang di tinggal sebrang, sawah di belah lelah mengembara tulus bergerak rimba kelam riwayat lalu
Amboi, sedari penuh daku terpana melihat gedung-gedung menjulang
tiada tanah, juga alunan jangkrik-jangkrik punah di ujung telinga
tampak seperti orang-orang berlari kesana-kemari berdetak-detak
dengan koper dan aneka ragam besi menderu pacu menuju hilang
Siapa yang kenal daku di sini? berdiri di balik tembok putih berkaca
tampak asing sendiri di antara orang-orang yang sekilas bau pesing
kehilangan adat istiadat yang mementingkan kebesaran diri
musik-musik merdu seruling tak kudapati di tengah hiruk pikuk mesin
Di sini malam dan siang tiada berbeda suasana
matahari pudar berderai menumpu cahaya di lampu-lampu kota
dengan udara pagi dan siang terbias pantulan kaca-kaca mulia
gigil suasana desa mengempis di dalam rumah bermesin pendingin ruang
Namun sore-sore yang mengangguk daku ajak bercanda tiada dusta
sinar horison yang nyaman memantul bak pelangi dari gedung kaca
meniupkan angin kota membangkitkan perjalanan daku beraroma dusta
langkah satu demi satu bercerita kehilangan tentang dongeng rumah desa
Baiklah, malam ini kita mulai menari di antara sawah yang mulai ku ingat bentuknya
Juga suara-suara jangkrik yang sudah kuhafal merdunya
meski daku hidup di pusat kota berkaca rupa bentuk bangunan kuat
namun esok berharap suara pagi masih sama umpama lagu-lagu di kaki gunung.
Aby Santika
Bandung,
21 Februari 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar