Selasa, 21 Februari 2012

GADIS PERAWAN

Akh, gadis perawan menunggu bulan naik di atas botol anggur merah
demi alam, jari menyusuri sisa-sisa angin yang tinggal nyawa
di dalam batin segala tiap laku merindu bukan sekedar merangkak paha
sambil merangkai karangan malam bukan tidur di belah dada

Sementara malam demi malammu kehilangan suara-suara lawas,

siapa akan bercinta dengan tembang merdumu?
seumpama cerca luaskan mura
m di tiap sudut matamu
kalau kewarasanmu lepaskan kau mematah puspa suci rupamu

Akh selalu, tubuh indah berbulu rambut ibumu tersedu
kala benderang purnama menutup luka putih di balik rendamu
menaikkan "Asu" di pangkuan liarmu semalam saja
membuai daun kian mekar menjadi lukisan hutan gelap

Bulan masuk di sebelah kiri merayu telur di tepi ranjang
serentak cemara tertiup riuh bergoyang kudus,
urat-urat berurut-urut kini gemetar ke ruang rusuk
ibu bapak di rumah memandang pucuk kering yang telah di tanam menjadi busuk

Akh kau, bukit tempat Kutilang berlindung di keruk "Asu" dewasa
maka sekarang burung tak betah hinggap sebelum rela
bermukim gersang tiada kerasan di sarang dusta
bila mabuk keluar masuk kepala muntah gunung bersimbur larva

Aduh, berharap saja diam-diam di kolong kain transparan
kelakuan di buat terjungkal usia di panggul nasib itu
beberapa jengkal hanyalah lemah tangisan melamban laun ketuban di sumbang murah
gadis perawan bau amis darah yang juga perawan

Ah, hujan rinai di paha terasa sakit padang dan bukit
mata berkilat-kilat, wajah pucat pasi tinggal sepasih
bulan pergi telah turun dari botol anggur merah darah dan amis
ibu bapakmu meladang renta di panen buah lenyap tiada sisa.

 



 Aby santika

Bandung,
20 Februari 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar