Kalau sempat kukasihi engkau di pagi hari
yang tampak terbuka bila matahari lemah pudar
menjanjikan bahagia di rumput semesta kita
dan berbunga seperti Sri, di negeri hitam putih
Masuklah ke rumahku sebagian air mata
bilamana engkau tak tahu untuk siapa cinta di bawa
linang embun juga suara pagi membagikan dingin
alun tembang lembut mendayu tiada terikat
Kudengar setiap kali engkau merayu pasir merah
di atas tubuhmu kuambil seutas rindu bermukim
seperti rangkaian jantung sendiri yang jatuh
umpama Sri, mengirimkan hangat di buaian tubuh
Lonceng waktumu menjemput tarian ritual
sejenak hanya suara menyimpan kekesalan
lalu kulepas jika engkau benar-benar lupa wangi melati
yang bersenandung di dalam air mata bergenang
Jika sempat melipat rembulan di bentang wajahmu
berjatuhan tangisan doa memanggil rindu setiap pagi
menunggu kasih andai tak sempat kembali
layaknya Sri, lenyap terbang lalu pergi
Engkau Sri, berjalan halus menoleh gelisah
anak yang tidak lahir dari rahim langit terbelah
hanyalah selembar sujud di simpan menampung cahaya rupa
kepada pagi aku mengucap harap secara kodrat
Ketika berhenti permainan waktu semesta kita
hanya bertanda pagipun menjadi musim berdiri sunyi
jika sempat kukasihi engkau yang berlari merantau fana
seperti Sri, yang bernyanyi menjelang pulang.
Aby Santika
Bandung,
07 Maret 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar