Hanyalah warna lebur berpercikan menumpah dingin
mengolah kesederhanaan yang di bawa diam-diam sewaktu angin
di puncak batang keringat bersimbah banyak beragam biji kopi
tempat tumbuh penawar lupa tanah di bukit coklat tetap tegak
Cokelat kopi, barangkali dengan mengerti di angkat sepi
warisan bukan sekedar tulisan di atas lidah dan gigi
tersenyum harum mematah masa yang tak terbatas kurungan
di petik jari buah biji hitam tampak coklat setelah dicuci
Amboi, hangat seteguk senantiasa bergoncang hati
terus terjaga supaya kebersamaan terpusat pada rindu
coklat kopi menarikan irama magis suara tangis di musim semi
wangi aroma semesta memegang gelas kaca di sela jemari
Dua kekasih menancap benih pantang dermakan gerimis
melepas lelah lapar dan dingin berjatuhan rindu tumbuh coklat dan kopi
umpama derik dedaun bergesek mengalahkan sunyi
siapa jadinya menjanjikan kekasih bila satu hari tak mendapat hati
Tidakkah tahu, di kebun rumah mimpi tinggal tampak putih?
dulu pekat kopi mengikuti serupa kaki anak bungsu kegirangan
kilauan coklat mendapatkan bukit sebagian asing berlawanan
di saat-saat tangis menghancur tanah pasir melebur
Amboi, satu teguk gelas coklat kopi bisikkan suatu kisah
tuan dan puan mengungsi di hati memandangi hari
hangat terwujud redup dingin dan kebasahan terbang lari
di rumputan rindang kebersamaan dinyanyikan irama kurus
Cokelat kopi, mengintip pasangan bertahan di kursi
bagi waktu yang hampir berhenti menikmati secangkir lagi
tak ada bahasa rindu yang bisa di baca saat lagumu membawa mekar
bunga-bunga harapan selalu tumbuh menjadi hutan ketika setia sehangat coklat kopi.
Aby Santika
Bandung,
22 Maret 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar