Inikah Bandung yang menyimpan wajah pribumi
berduyun-duyun kuamati orang bermil-mil menyentuh tanahnya
meminta sesuatu ketika hujan senantiasa tak henti-henti
terus berjalan dipenuhi kesejukan tak berbatas
Cahaya Matahari mengintip setiba air tersenyum harum
rimbun lampu kota di muka gapura terlupa terang
sebab cuaca merangkai hujan bersama fajar coklat
mematah hasratan kerja menanti diamnya mengalir
Aku masih berkaca membaca jendela yang basah
melantunkan puisi, menangisi kota yang dingin tak bercelana
rimbun pohon dan ilalang di tempuh banyak orang
tanah yang terbuka tak seperti kembang peneduh dahulu
Aku ingin pulang menyebrang jalanan yang berlubang
menaruh cempaka ditepian lekaslah harapan ada
di tengah manusia melambai rindukan kota
melampau redupnya wajah Bandung ketika hujan
Saat ini langit sebelah timur masih terdiam duka
meski ada segelintir riak di tempat aku terjaga
bila orang-orang berdendang karena sebagian bahagia
ketika langit menjatuhkan airnya untuk kita, bumi
Bilakah Bandung tabah di atas luka dan dosa manusia
hinggap sedari cerita Sangkuriang dan bunda kandung
jernih rahasia gunung-gunung membendung bagai keringat di daun kering
kota mimpinya terpelihara dari binasa amuk badai
Kota hujan menggigilkan rumah-rumah satu persatu
sebab hujan, seperti kelenjar penis di tarik lawan jenis
membuat Bandung nelangsa bersama kesedihan
ketika hujan hembusan dingin tak jua reda.
Aby Santika
Bandung,
08 Maret 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar