Kepada jalanan di sana dada bundar menggelar tikar
di samping orang-orang serba tenang berziarah damai
tak ada mimpi, sebab kamar kita di sewa berdua bergoyangan
di mana gerang matahari di muka kaca selintas saja
Apa kabar angin yang sampai temukan jiwa anyir?
engkau gerangan berhadapan wanita manis wajahnya
dalam dosa tampak orang-orang berlalu lalang pada kaca
sukar diduga aku uraikan kelelakian berhawa jati dari gunung agung
Urat-urat melewati sepasang mata keindahan
sampai memandang ibadat di arus yang segera rubuh
terbaring telanjang menggapai dengan malu
genting yang lembab bagai menahan sedihnya hidup yang liar
O Tuhan, aku memang disulam tindakan yang sia-sia
mujahid menyusuri pintu wali yang dikenangkan
berpuluh nasib menangis tersedu dengan maut
sebagian beriak di bibir kelu gemetar putus asa
Sedangkan berulang kali aku gila hidup di jalanan
melewatkan waktu-waktu yang lengang di sepanjang kamar
dadanya yang bundar mempersilahkan di balut jari lebar
di tempat ini bergulat kunikmati keringat di medan laga
Saat-saat tak berdaya perlahan kuredakan tarian kenari
sampai memasuki rahasia menyandang kehormatan manusia
dengan tirai sejengkal air anyir jadi tak berdaya
teguran suara Tuhan bercampur Whisky dan Arak kaleng
Tapi aku tahu Tuhan sangatlah baik dan pengasih
kumenangisi kesucian bersama malam yang beranjak sepi
kamar menampakkan bayangan pintu yang terbuka
aku tidak menunggu renta melunak hati tanpa telanjang lagi.
Aby Santika
CIREBON,
12 JUlI 2009.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar