Matahari seumpama kerinduan atau kekhawatiran
mendesak hidup dengan kayuhan doa yang layak
ia merangkak memandu suara kaki pedagang, tangan pembeli, bahu kuli mengangkut mimpi
daki malam tergayut sisa, harapan-harapan enggan terseret waktu
Orang yang datang berulang di kios kosong menunggu rindu
matahari mulai berdandan di antara gedung bercermin
menghadap timur kekasih menyongsong udara menampung dingin rindu dan cinta
namun terkadang langkahku selalu sepi dan sendiri
Di jalan yang penuh lampu dipantulkan kaca yang besar
wajah kuli sejak pertama meredakan saling tak tahu
wangi parfum yang datang bercampur anyir sampah
aku melihat langit adalah rintihan doa rindu-rindu untuk bibir terbuka
Abang-abang tua renta berhenti langkah yang lamban
memulai hari bukan berlari, pelan-pelan mencari matahari di jalanan kota
matahari untuk mencari rindu bertubi-tubi ketika shubuh
rindu ibu dalam pangkuan hangat, rindu kekasih belum bertemu
Matahari tidak akan terbit dari ujung rambutmu
sebab tembok-tembok tebal terus menghimpit tanah kelahiranmu
satu-satunya pandangan mengintip di atas sepasang mata yang datang
memberi harapan pipi yang merah terselip di Tanah Abang
Tapi gerimis menggores mata yang terpajang di pelelangan
rindu yang piatu seperti gelandangan tak ada ibu
barangkali di antara mereka matanya di pukul-pukul harapan kosong
matahari kosong, mengintip lesung senyum yang kosong
Aku kian tak mampu menyembunyikan sepi
suara mesin dan klakson-klakson adalah kenyataan
di Tanah Abang orang-orang masih berlalu-lalang
dan matahari adalah kekhawatiran, bukan kerinduan.
Aby Santika
Jakarta,
26 Maret 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar