Kamis, 29 Maret 2012

MALAM INI, AIR MATA JATUH DI IBU KOTA

Malam ini, tak dapat kuhitung bimbang terbawa pulang
berbekal ringkih nada-nada lengang di bahu ibu kota
tahan sepotong lapar dan dingin tanpa pegangan
rindu kecil ketika burung melepas tangis di rumput dingin

Restu ibarat doa berayun dari seberang jaraknya

kotapun merelakan air mata menjadi amalan tiap laku
sepi bercahaya lampu rentang ke dalam tubuhku

sampaikan harapan hilang dari apa yang ku pandang

Inilah aku, tumbuh luka yang ranum lupa di hitung ulang
jalanan panjang berkabung sebelah barat tertidur
perlahan kota pergi tanpa pamit tiada terasa
airmata adalah pesan rindu, entah pada siapa berhenti

Malam ini, aku terbang sebelum jiwa mencapai maut
menyatukan hujan di atas kelopak ibu kota kehidupan
bersalin hasrat melepas air mata sebatang kara
menangisku entah kenapa menepi ke segala sendi

Hembusan nafas di pilin-pilin bersama Tuhan selalu ada
bukan sekedar malam yang terlewat tak bermuka
menantang air mata agar tak menepi di ujung jalan pulang
ketika kota terasa samar memukul jantung begitu saja

Subuh segera mengendapkan butir-butir embun rindu
lalu diam menjadi serpihan di berai kaki melompat lelap
agar terusir bunga-bunga wanginya memilah air mata
yang tak hendak lagi menampung malam basah di pundakku

Malam ini, air mata jatuh di ibu kota
menunggumu menjelma nyawaku di tubuhmu
menjadi penghantar lelap nyanyian membuai mimpi
menyambut pulang menuju kota kembang.

 


Aby Santika

"Tengah malam"
Antara Jakarta-Bandung,
11 Maret 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar