Malam ini, tak dapat kuhitung bimbang terbawa pulang
berbekal ringkih nada-nada lengang di bahu ibu kota
tahan sepotong lapar dan dingin tanpa pegangan
rindu kecil ketika burung melepas tangis di rumput dingin
Restu ibarat doa berayun dari seberang jaraknya
kotapun merelakan air mata menjadi amalan tiap laku
sepi bercahaya lampu rentang ke dalam tubuhku
sampaikan harapan hilang dari apa yang ku pandang
Inilah aku, tumbuh luka yang ranum lupa di hitung ulang
jalanan panjang berkabung sebelah barat tertidur
perlahan kota pergi tanpa pamit tiada terasa
airmata adalah pesan rindu, entah pada siapa berhenti
Malam ini, aku terbang sebelum jiwa mencapai maut
menyatukan hujan di atas kelopak ibu kota kehidupan
bersalin hasrat melepas air mata sebatang kara
menangisku entah kenapa menepi ke segala sendi
Hembusan nafas di pilin-pilin bersama Tuhan selalu ada
bukan sekedar malam yang terlewat tak bermuka
menantang air mata agar tak menepi di ujung jalan pulang
ketika kota terasa samar memukul jantung begitu saja
Subuh segera mengendapkan butir-butir embun rindu
lalu diam menjadi serpihan di berai kaki melompat lelap
agar terusir bunga-bunga wanginya memilah air mata
yang tak hendak lagi menampung malam basah di pundakku
Malam ini, air mata jatuh di ibu kota
menunggumu menjelma nyawaku di tubuhmu
menjadi penghantar lelap nyanyian membuai mimpi
menyambut pulang menuju kota kembang.
Aby Santika
"Tengah malam"
Antara Jakarta-Bandung,
11 Maret 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar