Sabtu, 19 Mei 2012

GERBONG TERAKHIR

Mungkin hidup mengirimkan jembatannya kepada tubuhku
rel-rel dengan temali atau kuda-kuda dengan cambuk dan roda melingkar
ketika perhentian tumbuh seperti rumpun yang belukar, tersaji demi kelahiran,kehidupan dan kematianku
berjuntaian memamerkan impian dan sejarah dengan kesombongan
suara-suara berdesing mengulum udara di setiap gemeretak waktu
namun ia tetap gemuruh dalam menistakan kehendakmu dan menancap
setiap tubuhku

Kucobai jalanku memperkosa seperti kereta merayap

merobek setiap garba tempat segala kosong membentur kesucian yang masih buta,
padahal perhentianku menjelma jalan utama menuju Sorga dan separuh neraka
sebab ketika kutemui izrail dengan ketelanjangan dan tubuh penuh luka seperti penantian tanah
terhadap daun-daun gugur dari segala puting musim

Gerbong-gerbong seperti jaman yang merindukan wahyu, tapi bukan wahyu untukku

Aku berlari: kurebut waktu seperti kemarau dari atas bumi
Dan langit menyaksikan kekalahanku, kekalahan adam yang memulai dosa anak cucunya
membebalkan keabadian di tiap stasiun yang menjadi perhentian terakhirku
yang menyusuri goa gelap dan dingin seperti mula kelahiranku dari bukit-bukit dan darah yang menganak sungai di antara kutubkutub manusia

Ruhku tengkurap, taring-taringku menampar tarian kereta di setiap stasiun

Di sana, kutasbihkan diri dan menyampaikan berita terakhir, lalu segala menjadi asing,

Sepanjang hidup yang kupuja datang demikian sederhana


Gerbong yang rapuh, semakin sarat ketika segala menjadi pasti

Kulabuh kekekalan yang tersisa, lalu kulaknati kemanusiaanku yang pernah berdosa
sebab, stasiun terakhir adalah tempat menyerahkan diri kepada sang kala
seribu tulisan takdir berubah seperti putaran-putaran roda kereta

Aku gugur, kusimpan farji seperti tubuhku di perut bumi, ketika suara menjadi bisu dalam kematianku

aku akan datang menghadap Tuhan dengan semua ketelanjanganku,
Sebab akulah Musafir!





Aby Santika

Bandung,
06 April 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar