Sabtu, 19 Mei 2012

STASIUN TUGU SORE HARI

Di perjalanan, kuhidupkan kembali keluh nafas panjang
peron menerjemahkan lalu lalang angin ke setiap orang
bersama bunyi lokomotif dengan segenap cermin hati
setelah lama merasakan sakit akibat perpisahan tak sampai kepayang

Ya, sore ini, ayat-ayat matahari menari-nari di atas lembaran awan
biarkanlah semua ini menghanyutkan segenap kerinduanku
dengan pesona tamborin irama tua dan syair-syair membuka tirai-tirai penghalang
yang bersemayam dalam rindu yang merana di jantung kota Yogyakarta

Duhai adinda, nafas panjang yang pernah membuncah
tak kunjung mati meski telah berkalang tanah berjarak ribuan mil
stasiun tua menyenandungkan segala tembang yang mengasihi sepanjang masa
dan ia adalah mata yang amat indah dengan segala keindahan

Mbok-mbok pemanggul bakul menangis tersedu sedan,
menyaksikan cinta yang tak sampai seperti mawar yang dilumat kasar
ya, aku hanya berharap bisa menangkap sinar dari tangis
dan doa-doa yang berbunyi dari mereka di sepanjang gerbong keabadian

Agar akalku bangun dari korban api merindu dendam
lidah dan kaki berjejak meninggalkan stasiun yang kian malam
bersama bunyi ceracau setiap orang-orang yang kutemui diperjalananku
kelak, semua rahasia kehidupan akan jelas nan terang di hadapanmu Adinda.




Aby Santika

Yogyakarta
01 Mei 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar