Sabtu, 19 Mei 2012

EPILOG MENJELANG PAGI

Aku benar-benar mabuk oleh anggur perindu dari mimpi-mimpi malam
keagungan yang tampak kepermukaan adalah esensi sejati yang membuka mata,
bukan cawan-cawan yang berkilauan lalu berpaling memantulkan sinar
setelah embun bersimpuh di sekitar wajah matahari yang memikat segala bentuk dan bau keharuman

Pada hijaunya reranting, kicauan merdu burung mengatur keharmonisan nyanyian,
tak usah menghiraukan gema yang mencipta kesucian yang berkelok-kelok
di antara duri mawar yang merekah dengan tali-tali cahaya keelokan matahari
sebab sesungguhnya Tuhan telah menguji hati pagi dengan sentuhan kemuliaan dan keluhuran

Duhai khayalan yang luas, pandanglah alam di balik kabut tebal
kemudian bukalah penutup mata hati yang menyelipkan kesedihan
di balik airmata akan terlihat mengkilat seluruh permohonan doa
dari kegelapan dan mimpi-mimpi, tinggallah perjalanan yang tertawa kegirangan

Di sini, kehormatan malam mengangkat selendang suteranya
lantas memainkan tari-tarian yang sensual
harum bir dan khamer senantiasa bergoyang ikhlas menerima takdir
sementara ruhku seolah-olah berada di alam mimpi jasad yang muram

Kembalilah aku dalam kiblatmu duhai Allah
menjelang pagi yang hanya di damba dengan rintihan setiap ridho
seolah menjelma burung bul-bul kecil terpesona hakikat kilauan matahari
sambil tersenyum bangga memakai sorban putih di atas cahaya cucu Adam dan Hawa

Lihatlah pagi ini embun menimpa jejak-jekak mendung
dan aku melihat matahari terbit setiap hari dari masa lampau
tapi orang-orang tak pernah sepenuhnya menambatkan butir-butir airmata menghadapi kehilangan
barangkali pertaruhanku terakhir untuk bernapas dan menyebut Gusti Allah




Aby Santika

Bandung,
24 April 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar