Kamis, 05 April 2012

TUAK MALAM

Seperti malaikat, aku menunggu kekasih di antara sungkawa
yang tercucur darah, nujum dewa bergerak menuju kesepian,
lalu keikhlasan adalah beliung
yang mengantarkan pada kemabukan seribu kendi tuak
Menari bersama rembulan gerhana seperti nyanyian ibu,
melilit tubuhku yang setengah telanjang, suara-suara tangisan berdentum
- apakah malam adalah pengantar ruh-ruh yang lupa menuju lahat?
memaku kemabukanku pada dinding-dinding tanah yang mengapit?

Karena kebenaran seperti siang, yang kemudian lenyap di lidah malam

O sang kalifah, telah kutumpahkan tuak pada secawan puisi, dan darah merah beraroma busuk, mengejar kebenaran bersembunyi pada tuak-tuak yang mulai tumpah

Aku daki takdir itu, karena mimpi telah abadi dalam kutukan dongeng dan sisa kasidah yang peluh,

Lalu ketika mataku mulai terkantuk aku adalah malaikat di antara tubuh yang telanjang
dada yang belukar seperti kubur memanjang dan belum kutemukan kebenaran.

Tak terbantahkan: doa-doa berlari di keheningan malam

Doa antara langit yang bersenggama dengan tuak-tuak
ketika aku tidak bertemu pagi, itu karena aku terlalu mabuk dan mantra-mantra shubuh adalah lagu yang membuai aku jauh kedalam kendi-kendi tuak

Tapi siapa yang peduli?


Aku seperti malaikat, di antara iblis-iblis yang menanti kekasih, dan ketika mulai kutemukan sejengkal kebenaran

aku tak akan memahami, karna aku hanya ingin tuak yang menetes ke dalam tubuhku, tuak malam bersama kerinduan terhadap Tuhan.

 


Aby Santika

Bandung,
05 April 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar