Langit pagi dengan pucuknya, dan bunga bukan tempat matahari
untuk mendekap sejuta peleburan diri yang pecah lalu dosa di koyak memeta
seperti jibril tentang sayapnya terjatuh rapuh penuh ketidak berdayaan
Mungkin di atas kubah kita menenggak kepastian dengan kepala melayang
partitur mengeja nada-nada langit berterbangan
semacam gemerincing doa dengan pusaran sekeras gita seorang perindu menuntaskan gelisah
: dan pagi telah kembali diam
di belenggu sebuah angan, riuh angin menggugur daun-daun yang di tabur didadaku
tapi keresahanku menjelma sayap malaikat, dan sekendi udara, atau harus kutuntaskan kemabukan?
Ataukah dalam musim itu aku melayari setiap tubuh pagi yang memisahkan antara aku dan Tuhan
sebuah jarak kematian dalam sepekat ini, selain waktu laksana roda pedati
merebut kehendak dari jaman, tentang kelamin menusuk matahari
- aku mayat dengan ayat-ayat yang gagal
Persetubuhan tak lagi kudus, sebab jarit pisaunya memaksa subuh membelah kemurtadan
Seperti sejengkal sajak selalu menyisakan sebuah nyanyian tanpa notasi
lalu dengan telinga kudengar suara ibu umpama rintik hujan yang hadir dikepalaku
mengirimkan matahari, serupa bola mata ikan, untuk memilih sebuah cuaca
atau mengirimkan kutuknya sebab airmata dengan linang ruhnya tertahan dikeningku
sebuah surat terpenggal buat Tuhan, dan asal penciptaan
Siapakah pagi yang mengiringku menyembah kelamin
seperti cintaku pada pemujaan tanpa keinginan
menghujamkan tombak menembus garba yang ambruk sekarat dan mati seperti seorang kelaparan
menuju langit dalam kengangaan sebuah jarak peniadaan diri.
Aby Santika
Semarang,
07 Mei 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar