Di penyaksianku segalanya bermula, doa-doa berdenging memohon
berhembus dingin di sebarang suara-suara tercekat kesepianku
antara batas: ketika napas merengkah kuingat amsal serupa mi'raj kisah manusia dengan penciptaan suci
gemuruh ruh ditiupkan Tuhan beserta takdir yang dipasangkan tanpa jubah
memisahkan antara nasib yang bergurat pada daun-daun yang disirami dengan jarak yang tak terhingga
Lalu harapan mulai tumbuh, dan ayat-ayat tersaji pada ruang yang mulai kerontang
mentasbihkan Tuhan dari satu kasih yang bertolak kepastian impian di telapak tangan
sampai rerambut kusam diperaduan atau raib di teluk mengembalikan lupa pada doa didermakan
lalu menunggu
: sebuah rindu mengirimkan wujud dalam pencerahan
tentang batas keyakinan hati, seperti kecintaan terhadap Tuhan dalam tubuh yang renta
Tapi segala doa seperti sajak yang singkat
O Tuhan adalah raja kudus di perjamuan keniscayaan
Di kubah-kubah tua lafad mengantarkan sebuah cahaya kesucian
Hingga mempertemukan nasib dari jejak terakhir segala arah
sorak sorai, di tiap ayun kukandung doa pada kelahiran masing-masing perantara sabda yang datang dan pergi
merajut gerak-gerak doa yang tak kembali dari asal mula manusia dengan Tuhan
sebab, aku telah mulai penyaksian dengan tangis dan derap suara menderu,
tidak hanya membaptis diri dengan sepotong kelamin yang telah terkoyak, melarungkan kepongahan manusiaku
Maka hanya tulisan dengan rasa yang mengekal, keyakinan doa seperti menunggu wujud Tuhan
: kunfayakun !
Aby Santika
Bandung,
16 April 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar