Senin, 16 Januari 2012

SUARA DIJALAN-JALAN YANG LENGANG

Seperti suara dijalan-jalan lengang
halte-halte berbangku kosong sudah lama memaki waktu
adalah perang meriam suara jantungku

sepulang sesak dihentam tutur pulangmu

Punggungmu berbahasa luka setidaknya sebagian tawa

ketenangan mengukur rindu sedari selesai kubingkiskan utuh
dijalan gerimis terbenam sedu paruh kepulanganmu

Soal ikhlas mencernapun rela tak sampai

gemetar suara sunyi segalanya bera
dat pula ditanganmu
merenda malam-malam dibenang sesak terbelit

Dua puluh empat jam
Seumur tubuh adalah keberuntungan ketika sapa

berisi denting-denting suara sorga,
rebah bukan lelah keluar tiada sungguh

Matamu sebesar sorot titik kalam runcing
menggubah sinis tipis menyungging
dalam seperempat malam setebal kisi-kisi 

dibalik senyum tersendiri

Dialek sungguh menyembunyi bebal dada
ruah menumpah seluas mata air bermuara rasa
setidaknya sebagian hidup menyeluruh

kekurangan diri.

Jika suaramu berpulang mencari damai
batas Sorga menabur kasturi dijalan kita
kemudian diujung musim yang berputar

aku merebah diri disampingmu

Doa-doa bermukim dilepas rambutmu
sepanjang raya berjalan bersama
seperti suara dijalan-jalan yang lengang.


 


( Puisi berjudul :

" SUARA DIJALAN-JALAN YANG LENGANG "

Untukmu yang pulang mencari damai,
Aku hanya akan terus berjalan diantara jalan-jalanmu yang kosong "tangisku" tetap bersuara ).



Aby Santika

BANDUNG,
11 JANUARI 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar