Seperti suara dijalan-jalan lengang
halte-halte berbangku kosong sudah lama memaki waktu
adalah perang meriam suara jantungku
sepulang sesak dihentam tutur pulangmu
Punggungmu berbahasa luka setidaknya sebagian tawa
ketenangan mengukur rindu sedari selesai kubingkiskan utuh
dijalan gerimis terbenam sedu paruh kepulanganmu
Soal ikhlas mencernapun rela tak sampai
gemetar suara sunyi segalanya beradat pula ditanganmu
merenda malam-malam dibenang sesak terbelit
Dua puluh empat jam
Seumur tubuh adalah keberuntungan ketika sapa
berisi denting-denting suara sorga,
rebah bukan lelah keluar tiada sungguh
Matamu sebesar sorot titik kalam runcing
menggubah sinis tipis menyungging
dalam seperempat malam setebal kisi-kisi
dibalik senyum tersendiri
Dialek sungguh menyembunyi bebal dada
ruah menumpah seluas mata air bermuara rasa
setidaknya sebagian hidup menyeluruh
kekurangan diri.
Jika suaramu berpulang mencari damai
batas Sorga menabur kasturi dijalan kita
kemudian diujung musim yang berputar
aku merebah diri disampingmu
Doa-doa bermukim dilepas rambutmu
sepanjang raya berjalan bersama
seperti suara dijalan-jalan yang lengang.
( Puisi berjudul :
" SUARA DIJALAN-JALAN YANG LENGANG "
Untukmu yang pulang mencari damai,
Aku hanya akan terus berjalan diantara jalan-jalanmu yang kosong "tangisku" tetap bersuara ).
Aby Santika
BANDUNG,
11 JANUARI 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar