Bertanah ibu tergantung dikanan dan kiri
nan lahir sambungan nyawa sebangsa moyang
sertakan dendang memuji berkalang merdu
sibuyung lupa menyambung bahasa menjadi padu
Bukannya sebagai bayang segala kata
bernafas kecil selagi sedarah pernah
menulis kosong tempat dunia menampung kudus
nasib bangsa dipikul petang terasa berat
Senang bersuka cita banyaknya ragam elok selalu
penawar berai berkatan segala gerak
bahasa moyang gubahan teladan seluruh dunia
buat kami lelap didendang bahagia sedang
Konon lidah jauh menjunjung tempat muasal
menaruh benih tak sampai semai dituah rupanya
handai taolan tentulah nestapa tiada berkata
menggaris terbang bahasa melampaui melayu sayang
Aku menjadi malu mendongeng nanti
bicara cedera mulutnya dibendung tawa
pada anak cucu tidak kususul bakti amalkan Nusa
sengsara hidup nenek tua moyangnya mati
Jangan kemari peradaban berlengan asing
menyanyikan zaman memandang deru yang masih muda
bacalah adat-adat dikitab usang berayah
punah warisan
Nanti kehormatan dari ibu bukanlah laknat
menyusui bahasa lahir jangan mengemis tangis
maka tumbuhlah bangsa ditanah gembur
kecintaan berbahasa nenek moyang berdiri tegak.
( Puisi berjudul :
" BAHASA MOYANG "
Bentuk keprihatinan terhadap banyaknya orang-orang terutama generasi muda,
Yang tidak lagi menjunjung bahasa asalnya,
Baik bahasa daerah,
Maupun berbahasa Nasional yang baik dan benar,
Tentu dengan seiring berkembangnya zaman
Dan kemajuan peradaban yang turut dipengaruhi dunia luar ).
Aby Santika
BANDUNG,
18 Januari 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar