Ketika hanya harap yang tampak di kaki langit
kita jatuh berpandangan dalam berai terpisah
rindu terbeku ke desah hati dan berhenti
bagi mimpi, mencuri nyanyian sebab bisikan alun mendekat
Rangkaian waktu bersendi sebentar musnah
hati rawan masih akrab bersembunyi
di bumi ini harapan berisik mengepung burung-burung walet yang menghitung keyakinan begitu jujurnya
Adinda,
Siapakah perjaka yang berayun di setiap musim putih?
menyampaikan ketakutan yang menggenggam erat-erat
sempurnalah rindu setiap hari bernaung di tubuhmu
Adinda,
Keyakinan mengenangkan sejalur wajah yang kabur
kemudian tangis merintik masuk ke arahku
dan napas ini adalah tempat burung-burung mengagumi hati
teduh dan nikmat
Maka, kukasihi engkau, jika tiada segala teori
memberi perasaan sampai terbaring setengah sepi
karena kita kelak akan saling bercerita
sambil berkata :
bersama Tuhan datang semua bahagia.
Aby santika
Bandung,
30 Maret 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar